Anak kecil menangis

Si Gendut, Santri Kecil yang Menangis

Waktu saya masih SD, mungkin kelas 1 atau 2, saya ikut belajar di TPA Masjid Bina Patra di Kampung Baru Kelurahan Karangboyo, Cepu. Masjid yang mewah di mata saya karena bangunannya serba tembok dengan ubin indah seperti marmer. Mempunyai sekolah Taman Kanak-Kanak dengan perosotan dan beberapa alat permainan lain, halaman luas, perpustakaan, dan kamar mandi yang lebih luas lebih putih dari yang ada di rumah saya.

Saya ingin bisa baca Al Quran dan sepanjang ingatan itu pertama kalinya saya belajar mengenal huruf-huruf hijaiyah. Selepas asar duduk di salah satu bangku di ruang kelas TPA dengan adik saya yang sepertinya waktu itu masih TK, di sebelah saya. Ustadz menjelaskan huruf demi huruf, harakat, mencontohkan cara membacanya. Murid-murid lain mengikutinya dengan baik.

Saya membeku, menatap huruf-huruf yang tidak saya kenal. Minder dengan murid lain yang begitu pintar-pintar. Saya pun takut, panik karena tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, tak bisa membaca huruf hijaiyah. Saking takutnya saya kemudian menangis.

Seisi kelas hening mendengar isak saya. Mereka bingung, adik saya yang juga bingung bertanya saya kenapa? Ustadz juga mendekat dan bertanya dengan lembut kenapa saya menangis? Saya tahu jawabannya tapi takut menjawab karena takut ketahuan saya tak bisa memahami apa yang diajarkan. Setelah ustadz bertanya lagi beberapa kali baru saya mengaku.

Ustadz, adik saya, dan beberapa teman sekelas menyemangati, “Tidak apa-apa, nanti juga bisa lama-lama.” Suara-suara yang kini saya kenang dengan rasa terima kasih.

Tapi saya sangat malu berada di tempat itu dikelilingi orang-orang pintar dan saya bodoh sendirian. Akhirnya saya ijin pulang dan tidak mau lagi belajar di situ.

Alhamdulillah, sampai di rumah orangtua saya tidak marah dan tetap mendorong saya untuk belajar. “Kami nggak pintar tapi kamu harus pintar mengaji,” kata mereka.

Beberapa minggu atau bulan kemudian saya dan adik didaftarkan ke TPA Masjid Al Falah Kelurahan Ngelo. Di tempat baru ini rasa takut saya banyak hilang. Saya bisa belajar dengan tenang dan menyenangkan.

Mungkin karena sebelumnya saya harus belajar di ruang kelas, lengkap dengan kursi dan mejanya. Sedangkan saya punya rasa takut pada sekolah.

Di Al Falah tempat belajarnya di serambi terbuka dengan pemandangan lapangan bola yang sering ramai dengan anak-anak dan kambing-kambing. Saya duduk di lantai menekuni kitab kecil yang disebut turutan terbentang di meja kayu rendah.

Pengajarnya Pak Bismo, yang kalau sedang panen singkong dia bawa sebaskom singkong kukus ke TPA. Pernah juga dia membagikan permen pada kami murid-muridnya.

Suatu saat angin bertiup kencang dari utara, menerpa tripleks pembatas shaf pria dan wanita hingga jatuh menimpa saya yang sedang berdiri. Saya takjub karena tidak apa-apa, tidak jatuh, tidak merasakan sakit yang bisa membuat mengaduh. “Ternyata aku kuat,” bangga saya dalam hati.

Pengalaman masa kecil itu juga terus saya alami ketika saya remaja, hingga di usia dewasa sekarang. Saya sering merasa tidak nyaman setiap mulai belajar hal yang baru. Ada rasa bingung, lelah, takut, malu, bahkan kadang merasa tersiksa.

Hal itu perlahan-lahan saya terima dengan kesadaran, karena wajar ketika mengenal hal yang baru seseorang akan canggung. Maka setiap belajar hal baru sering saya targetkan untuk jangka waktu tertentu target saya adalah membuat kesalahan-kesalahan.

Misalnya membuat 100 konten Instagram yang jelek dan low engagement. Dalam waktu 6-12 bulan ngeblog dengan artikel dan trafik yang jelek. 6 bulan pertama belajar silat saya harus siap pegal-pegal, capek, terkilir, dan hanya bisa membuat gerakan-gerakan yang lucu. 1 tahun pertama belajar SEO saya harus stres memahami cara kerjanya dan mengumpulkan banyak kegagalan.

Target saya yang sesungguhnya bukan ingin gagal. Tapi dengan kesadaran bahwa kegagalan di awal itu sangat mungkin terjadi membuat semangat belajar saya terus ada. Kesalahan dan kegagalan gunanya untuk dievaluasi bukan diratapi. Juga di antara kegagalan yang terkumpul saya memperoleh beberapa keberhasilan sekaligus mengumpulkan pengalaman.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *