Pilih-pilih teman

Pilih-Pilih Teman Itu Penting Untuk Kelangsungan Pekerjaanmu

Saya pernah tidak masalah berteman dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang perilakunya merugikan orang lain. Hingga beberapa peristiwa dalam hidup saya membuat saya sadar bahwa pilih-pilih teman itu penting.

Teman yang merugikan, yang toxic, bisa berpengaruh buruk pada pekerjaan dan proses kesuksesan kita. Besar kecil pengaruhnya bervariasi tentunya. Dari tingkat sekadar mengganggu dan menyebalkan sampai membuat kerugian besar dan kebangkrutan.

Saya punya saudara yang merintis usaha bengkel motor. Lingkungan pergaulannya, teman nongkrongnya, ada orang-orang yang perilakunya seenaknya sendiri. Hal itu berimbas pada kelangsungan usaha saudara saya yang kemudian bangkrut.

Ada temannya yang suka ngutang oli seharga sekitar Rp 26.500,-, harga yang termasuk mahal waktu itu. Tidak pernah dibayar padahal keuntungan oli cuma sekitar Rp 2.500,-. Saudara saya juga tidak berani menagih, hanya ngedumel, mungkin kalau menagih dia takut hubungan pertemanannya rusak.

Contoh lain bengkelnya itu dipakai tempat mabuk-mabukan di jam operasional, bahkan sampai ada yang begitu mabuknya menginap tidur di bengkel. Pernah juga temannya yang mabuk mampir ke bengkel dan mengintimidasi seorang pelanggan, akibatnya pelanggan itu tidak pernah lagi datang ke bengkel.

Tapi tidak semua perilaku merugikan itu berasal dari teman yang punya kebiasaan negatif. Teman yang termasuk ‘orang baik’ pun bisa mempunyai kebiasaan toxic.

Saya sendiri mengalaminya, namun yang akan saya ceritakan disini yang tingkat keparahannya kecil.

Ada teman yang minta dibuatkan blog, lengkap dengan domain hosting yang akan dia bayar nanti. Saya buatkan, setelah jadi dia ngelunjak minta sekalian diisikan konten blognya, janji dia mau bayar pun tidak pernah ditepati. Bahkan dia berani minta lagi dibuatkan blog baru alasannya karena ingin menulis niche yang berbeda dari niche blog lama yang tidak pernah dia isi kontennya.

Teman satunya lagi menawar paksa jualan jam tangan saya yang 2,5 juta jadi 500 ribu saja. Alasannya dibuat-buat, katanya jam saya jam bekas, padahal baru. Lalu dia beralasan lagi menuduh jam itu curian, padahal tidak.

Kedua orang itu sekarang saya jauhi dan saya tidak menyesal. Karena mereka sudah berkali-kali menghambat pekerjaan saya. Mereka tidak terlalu peduli jika apa yang mereka lakukan berimbas jelek pada nafkah saya ke keluarga.

Selain mereka juga ada circle pertemanan lain yang saya tinggalkan, karena sering merugikan dan mereka sepertinya sulit berubah. Saya fokus pada teman-teman yang tidak toxic baik teman lama maupun teman baru.

Hasilnya sungguh menyenangkan. Waktu saya terlibat dalam urusan sepele dan menyebalkan berkurang drastis. Stres berkurang, waktu luang bertambah, peluang job juga bertambah karena circle yang baru lebih menghargai pekerjaan saya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *