drama kantor

Cara Menghadapi Drama Kantor dan Teman Kerja yang Menyebalkan

Dulu waktu masih kerja kantoran saya pernah mengalami drama kantor yang cukup menyebalkan. Konflik dengan teman kerja, dengan atasan, sebal dengan kinerja teman kerja bahkan juga kinerja atasan. Juga jengah dengan teman kerja dan atasan yang toxic.

Ternyata hal itu juga dialami pasangan saya dan teman-teman saya. Ada yang durasi dramanya singkat, ada yang berulang, ada yang berlarut-larut hingga membuat stres dan ingin resign.

Sudah lama saya ingin menulis tentang bagaimana menghadapi drama dan teman kerja yang menyebalkan di kantor dengan baik. Sebisa mungkin tanpa stres, tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental.

Saya lalu mulai melakukan riset karena pengalaman dan pengetahuan saya saja sangat tidak mencukupi untuk membahas masalah ini. Setelah berhari-hari belajar, inilah hasilnya saya tuliskan di artikel ini.

Yaitu poin-poin untuk memahami dan menghadapi drama di kantor, yang penyebabnya adalah kita sendiri, rekan kerja, atau atasan. Karena itu saya fokus membahas interaksi kita dengan rekan kerja saat dalam konflik.

Perlu dicatat bahwa yang saya sampaikan berasal dari pengetahuan dan pemahaman saya yang terbatas. Saya akan senang sekali bila ada yang mau mengoreksi dan menambahi yang ada di tulisan ini.

Orang Menyebalkan Di Tempat Kerja dan Pengaruhnya

Salah satu penyebab drama kantor adalah karena adanya orang yang menyebalkan. Penyebab lingkungan kerja yang toxic juga orang yang menyebalkan. Entah itu teman kerja atau atasan kita dan bahkan diri kita sendiri.

Orang menyebalkan yang pernah saya temui di kantor adalah orang yang perilakunya kasar, omong besar tapi kerjanya amburadul, suka berbohong, komunikasinya buruk, mengejar kepentingan sendiri, tidak percaya kemampuan kerja orang lain, tidak mau menyelesaikan masalah, dan si bully yang menakuti orang dengan ancaman.

Yang menyebalkan bukan hanya perilaku mereka. Tapi setelah menyinggung orang mereka tidak mau memperbaikinya dengan misalnya meminta maaf.

Menghadapi orang yang menyebalkan bisa menyita waktu, membebani mental, menguras energi, menurunkan produktivitas kita. Bahkan bisa membuat kita malas berangkat kerja, atau yang lebih parah menjadi muak dan resign.

Mengapa Mereka/Kita Menyebalkan?

Dari pengalaman saya penyebabnya ada yang karena mereka benar-benar orang yang buruk. Misalnya sifatnya memang sombong, kasar, suka berbohong, menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan.

Tapi ada juga orang yang menyebalkan tapi sebenarnya dia orang yang baik. Mereka jadi begitu karena keadaan.

Misalnya di tempat kerja saya dulu ada orang baru yang menempati posisi baru, posisi yang belum pernah ada sebelumnya. Di bulan pertama, karena belum banyak tugas dia banyak nganggurnya.

Saking bingungnya waktunya kadang dihabiskan dengan tiduran. Apalagi kantor belum membelikan dia komputer yang sangat penting untuk pekerjaannya. Hal itu sempat membuat teman-teman lain sebal padanya, dia sempat dituduh pemalas dan makan gaji buta.

Ternyata setelah kenal lebih dekat dia adalah orang yang baik dan humoris. Di bulan kedua dan seterusnya dia banyak tugas dan skill-nya berguna untuk perusahaan.

Contoh lain seseorang saat di akhir pekan dua hari berturut-turut bertengkar dengan suaminya, ditambah mertuanya ikut campur menyalahkan dia. Senin pagi dia merasa lelah, kepalanya pening ingin tiduran saja tapi ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor.

Saat masuk kantor atasannya dengan tidak sabar menanyakan perkembangan pekerjaannya. Akibatnya dia bete, teman-teman yang mengajak ngobrol pun dijawabnya pendek-pendek, ada teman yang sedikit menyinggungnya dia langsung meledak, marah.

Namun tidak semua drama di kantor adalah akibat kesalahan orang lain. Kita sendiri bisa salah dan bisa jadi juga pernah jadi orang menyebalkan di kantor. Saya pun pernah bereaksi berlebihan saat marah pada teman kerja.

Jangan Lakukan Ini

Saya dan mungkin sebagian orang sempat berharap orang-orang yang menyebalkan dibersihkan dari kantor. Entah mereka resign atau dipecat atau apa yang penting mereka enyah dari kantor. Tapi sebenarnya harapan saya itu hanya mimpi yang sia-sia untuk dimiliki.

Menghindari mereka, juga memblokir WA, bahkan sampai tidak masuk kerja menurut saya juga bukan jalan keluar yang baik. Saya tak rela kebebasan bergerak saya direnggut, juga itu sama saja membiarkan diri kita disakiti dan dibatasi, membiarkan mereka tidak tahu bahwa tingkahnya itu buruk.

Saya pernah berpikir naik jabatan bisa jadi jalan keluar, tapi tidak tentu ternyata. Orang yang menyebalkan ada di segala lapisan. Bahkan saat kita mencapai jabatan tertinggi bisa saja ada karyawan dan klien yang menyebalkan.

Saya pernah juga ingin resign dan cari pekerjaan baru, tapi cari pekerjaan baru itu tidak mudah. Meskipun dapat pekerjaan baru juga tidak menjamin di tempat baru orangnya menyenangkan semua. Sudah gajinya ternyata hanya selisih sedikit, lingkungan kerjanya ternyata juga sama saja.

Saya dulu pernah diperbantukan ke pekerjaan teman yang sebenarnya bukan bidang saya. Suatu hari dia mencela saya tidak becus membantunya, saya langsung membalasnya dengan kemarahan yang saya ungkapkan saat itu juga. Tapi jangan lakukan apa yang saya lakukan, sebab membalas dengan kekerasan verbal (bentakan misalnya) apalagi sampai menyakiti fisik itu tidak baik.

Jangan juga melakukan hal yang selain dilakukan di kantor, juga dilakukan di lingkungan bertetangga dan berkeluarga. Misalnya saya ada masalah dengan sebut saja Fulan, tapi saya tidak membicarakan masalah itu langsung dengan Fulan. Melainkan saya bicarakan, gosipkan, dan keluhkan pada teman-teman kantor lain.

Saya tidak ngomong langsung ke Fulan karena saya memang tidak biasa bicara dengan terus terang (speak up), karena saya khawatir Fulan marah kalau saya langsung bicara padanya. Melalui gosip yang tersebar saya harap Fulan menyadari kesalahannya dan memperbaikinya serta minta maaf pada saya.

Padahal itu salah besar. Fulan malah marah dan benci karena masalahnya tersebar dan menganggap saya tidak berniat menyelesaikan masalah dengan baik-baik. Fulan akan lebih menghargai bila saya langsung bicara padanya dengan baik dan tulus, yang sekaligus menunjukkan niat saya untuk menyelesaikan masalah.

Yang jelas, jika menghadapi masalah tidak dengan bijak bisa membuat masalah bertambah buruk dan bisa merubah kita jadi orang yang menyebalkan di mata orang lain.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Intinya adalah hadapi dengan tenang, profesional, dan bijaksana. Jangan respon dengan kemarahan, kekasaran, kesinisan. Memang sulit dilakukan tapi bisa kok dilakukan meski perlu latihan dan kebiasaan.

Ketika ada konflik di kantor jangan biarkan emosi menguasai dirimu, jangan biarkan emosi membuatmu mengambil keputusan yang buruk. Pertama amati perasaanmu dan emosimu apakah kamu sedih, marah, atau bagaimana? Kenali juga perasaan dan emosimu lawan konflikmu apakah dia benci, marah, atau apa?

Lalu kenali apakah ada hal-hal yang membuat kalian stres? Mungkin deadline, pekerjaan yang menumpuk dalam waktu bersamaan, atau ada klien yang ruwet bin ribet.

Lalu berusahalah memahami kenapa teman kerjamu kasar padamu? Apa penyebabnya? Apakah kamu juga kasar padanya?

Setelah mempunyai cukup pemahaman akan konflik yang tengah terjadi kamu pikirkan tindakan apa yang paling tepat kamu ambil. Tindakan yang bijaksana dan profesional, yang tidak bertujuan menyakiti siapapun.

Bisa jadi saat menganalisa masalah kamu menemukan ternyata kamu juga membuat kesalahan. Bahkan kamu yang lebih banyak salahnya atau kamu yang memang sepenuhnya salah. Kalau itu terjadi kamu harus menyesuaikan responmu, misalnya dengan memperbaiki kesalahan dan meminta maaf dengan tulus.

Susah ya kalau dijalani? Maunya kita langsung bertindak saja begitu ada masalah, tidak pakai mikir yang penting puas sudah melampiaskan perasaan pada lawan konflik. Tapi sebenarnya dengan langsung bertindak secara emosional malah akan memperburuk keadaan, merusak hubungan dengan teman kerja, dan diam-diam kita bisa dicap negatif.

Taktik memberi jeda saat berada dalam konflik menurut saya juga besar manfaatnya. Adakalanya kita begitu terprovokasi sehingga kita benar-benar marah.

Kalau kita langsung merespon konflik biasanya bentuk respon kita adalah luapan kemarahan atau pembelaan diri. Bisa menjadi debat emosional yang tak berkesudahan. Tundalah merespon agar pikiran kita dan lawan konflik menjadi jernih lebih dahulu.

Misalnya ada message atau WA yang menyakitkan hati, jangan langsung balas. Biarkan beberapa lama baru balas dengan baik-baik.

Contoh lain waktu kerja ada konflik dan kamu tahu kalau kamu langsung bahas saat itu juga kamu bakal marah-marah. Jika memungkinkan ajaklah temanmu untuk membahas ulang di waktu lain. Jika kamu susah mencari jeda dan harus merespon langsung, berusahalah sabar.

Kalau kita bisa melatih menyelesaikan masalah seperti poin-poin di atas, lambat laun kita akan menguasai skill yang berharga bukan saja untuk di tempat kerja tapi juga di kehidupan. Kita akan jadi dewasa dan proses berpikir serta menyelesaikan masalah bisa jauh lebih cepat.

Kita juga akan terhindar dari stres yang membebani, dan bisa mengelola emosi dengan lebih produktif dan profesional. Kita juga akan lebih percaya diri dan terbiasa berpikir sebelum bertindak.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *